Jangan Cela Anakmu

Diruang tunggu pemberangkatan pesawat, kulihat seorang ayah duduk bersimpuh dilantai memangku anaknya yg kira2 berusia 5 tahun. Sembari menunjuk pesawat yg terparkir, ia bercerita pada anaknya. Jelas terdengar olehku sang ayah menceritakan bagaimana pesawat bisa terbang ϑαπ membawa penumpang sampai tujuan. Anaknya begitu antusias mendengarkan, dgn sesekali memperhatikan pesawat yg terparkir. Aku berdecak kagum padanya. Komunikasi yang dibangun tentu dpt memberi nilai positif pada tumbuh kembang anaknya.

Disisi yang berbeda, kuliat lagi seorang ayah yang tak sangar dgn kasar memerintahkan anaknya utk duduk. Hal ini krn terlihat sang anak sangat aktif ϑαπ beberapa kali berlarian menabrak beberapa orang yang sedang duduk. Sampai pada akhirnya anak itu duduk mengkeret krn begitu tinggi suara sang ayah membentak.

"Dibilangin susah banget ya. Duduk..!"

Sebisa mungkin aku mengobati luka hati anaknya lewat ekspresi lucu yg kubentuk sedemikian rupa tanpa suara, sehingga sang anak sedikit senyum. Walau tetap mengkeret.

Dalam hati, aku berucap. "Ayah yang ini juga sedang membangun komunikasi.

Sang ayah betapa tdk perduli, bahwa anaknya blm memiliki kekuatan utk bisa menerima ϑαπ mengintegrasikan suatu tindakan kemarahan ke dlm hidupnya. Ini akan berakibat melumpuhkan daya fantasi serta menghambat pertumbuhannya.

Saya jadi terikat perkataan sang Imam Ghazali "Jangan ayah sering mencela anaknya. Karena keseringan mendengar cela menjadi biasa, menumpulkan hati dari nasihat yang mulia.

Sambil menunggu jam take off, jawab dalam hati yuk.. model ayah yg mana kita ini ya? Yang pertama atau yang kedua?

@dongengkakawam