Menjaga Kebun dengan Syukur dan Shadaqah

Suatu hari, pemilik kebun itu bersumpah. Mereka akan memetik hasil kebunnya di pagi hari. Tatkala hari masih remang2. Inilah upaya agar orang2 miskin tdk tahu kalau hari ini mereka memanen. Agar orang2 itu tdk mengerumuni hasil panen. Dan berdiri menanti pemberian sebagian hasil panen sebagaimana dulu mereka terima dari "BAPAK pemilik kebun itu. Ya, dulu bapak pemilik kebun ini adalah orang kaya yang dermawan. Setiap panen, selalu saja menyisihkan sebagian hasil panenan untuk diberikan kepada fakir miskin.

Orang kaya dermawan itu telah tiada. Kebunnya diwariskan pd anak2nya. Tetapi kedermawanannya tidak turut terwariskan.

Anak-anak itu esok hari akan panen.

Malam itu mereka tidur lelap. Mereka tidur lebih dini dari biasanya. Persiapan badan. Agar tdk bangun kesiangan. Besok panen. Mereka tidur membawa angan, besok akan dapat hasil lebih banyak. Lebih utuh. Tidak terkurangi oleh kerumunan orang2 miskin itu. "Enak saja terima hasilnya padahal tidak turut berkeringat menanamnya."

Datanglah ketentuan Allah. Kebun itu diliputi malapetaka ketika mereka sedang tidur terlelap. Jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Kebun itu terbakar dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.

Di pagi hari mereka berangkat dgn niat yg bulat, tidak akan memberi bagian kpd orang miskinn spt orang tuanya kala dulu.

Tatkala mereka telah sampai dan melihat kebun itu, mereka berkata: “Aduhai ! Kita telah keliru jalan. Ini bukan kebun kita. Kebun kita banyak buahnya, kebun ini kok hangus dan hitam legam.” Semuanya terpaku terdiam. Mereka semua memikirkan apa yang dihadapinya. Lalu muncullah kesadaran mereka. Salah satunya bergumam, “Tidak. Sungguh, kita tidak tersesat. Ini kebun kita. Masya Allah! Kita dicegah Allah untuk panen. Bahkan kita sama sekali tidak mendapat bagian sedikitpun.