Mendongeng Bukan Sekedar Pekerjaan

Pak Mat menyeka keringatnya tanpa senyum sambil memandang 12 anak yg bubaran setelah mendengar ceritaku di samping rel kereta api, dimana anak2 jalanan itu berkumpul. 3 titik terlalui menjelang sore dgn cerita spontan, ϑαπ utk anak2 yg juga datangnya spontan.

"Knp musti di tempat2 spt ini sih Kak, Dongengnya?" Tanya pak Mat sembari merapikan peralatan speaker.

"Memangnya kenapa, pak Mat? Ada yg salah?"

"Ya iyalah... Kumpulin saja anak2 di balai desa atau di halaman masjid. Sekian banyak anak, baru kita mendongeng. Gampang kan?" Jawab pak Mat

"Ya sudah, Kalo begitu mulai besok pak Mat kumpulkan anak2 di balai desa ya. Sebanyak mungkin yg pak Mat mampu."

"Loh, kok saya yang mengumpulkan sih Kak?"

"Loh, terus siapa yg mengumpulkan kalau bkn kita Pak?"

"Iya juga sih. Tapi tdk hrs setiap ada anak2 yg nongkrong kita samperin ϑαπ dongenging dong kak."

"Heheee... Ini sensasinya pak. Mendongeng itu bukan sekedar pekerjaan, yg hrs menunggu undangan baru mau jalan. Mendongeng itu kesenangan. Tenaga kita di bagi2. Ada waktunya kita hadir diacara anak2 yg sdh disiapkan panitia secara hingar bingar, tapi ada waktunya kita hentikan langkah kaki lalu menghampiri anak2 yg kita temui dijalanan, dikolong jembatan atau dikeramaian pasar. Lalu langsung kita elus ϑαπ kita beri nutrisi cerita,

"Sama dong kayak dokter ya kak. Ndak perlu nunggu daftar bagi yg sakit, langsung bergerak menolong krn rasa kemanusiaan."

"Yes.. Yuk,.. mumpung blm jam 6. Kita lanjut lagi cari tongkrongan anak2 yg lain".

Pak Mat semangat sembari berteriak, "Mana suaraaaamu???"

(Awam Prakoso)