Jangan berhenti berupaya

Matahari telah tenggelam, ϑαπ haripun semakin malam. Suara adzan dr masjid berkumandang dgn merdu ϑαπ Sempurna. Gema suaranya mengalahkan irama manapun. Kami sujud. Takluk! Takut pada yang patut ditakuti.

Usai Sholat, kulihat pak Mat mulai berkemas. Raut lelahnya tampak begitu sempurna. Mengalahkan petinju kelas berat, krn seharian ikut mendampingi anak-anak hebat bermain kamera. Ia tarik nafas panjangnya sebelum kemudian tersenyum padaku.

"Capek nih ye,.." Kataku menggoda

"Biasa saja kali kak. Kan memang biasa diluar ϑαπ selalu luar biasa, hahaaa." Jawabnya dgn tawa yg dipaksakan krn lelah.

"Kalau lelah, besok kita berhenti sejenak dulu pak. Dua atau tiga hari kita goes lagi menyelesaikannya" hiburku.

"Hahaaaa, kak awam bisa saja. Upaya itu jgn dihentikan kak. Apalagi do'a kudu terus dilantunkan, sampai ada peluit panjang ditiupkan. Θαπ hanya Allah yg tau kapan peluit panjang itu akan ditiup." Katanya bersemangat

"Jadi, besok kita lanjut?" Tanyaku

"Yessss, tanpa lelah ϑαπ tanpa tapi."